Rabu, 16 Januari 2013

Manusia dan Harapan

cerpen manusia dan harapan
Teriknya mentari tak menyuluhkan semangatku untuk mencari dia sang belahan jiwaku. Ku telusuri kota ini ku tanyakan kepada semua orang di pinggir jalan dimana rumahnya . Hari pertama nihil tak menemukan informasi satu pun yang ku dapatkan tentang keberadaan dirinya tapi aku tak kan pernah surut semangatku untuk tetap mencari keberadaan dirinya.



Pandangan hidup
Bandingkan ideologi komunis, ideologi liberan dan ideologi pancasila.

#KOMUNIS#
- Politik: Otoriter
- Ideologi: Sama rasa sama rata
- Ekonomi: Kegiatan ekonomi diatur oleh negara secara mutlak.
- Sosbud: Setiap warga memiliki derajat yg sama, termasuk soal kekayaan
- Agama: Lebih mementingkan materialisme

LIBERAL#
- Politik: Biasanya demokrasi (tapi ga semua sih)
- Ideologi: Kebebasan individu
- Ekonomi: Kapitalisme
- Sosbud: Setiap orang bebas melakukan apa pun selama tidak melanggar hukum
- Agama: Sekuler (memisahkan antara agama dg keduniaan)

#PANCASILA#
Politik, Ideologi, Ekonomi, Sosbud dan Agama, sesuai sila2 dalam pancasila.  
Sumber : http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20101006050338AAmGCs0



Manusia dan Harapan
1.Nilai-nilai budaya sebagai tolak ukur harapan
Dalam hasil budaya yang berupa sastra, dapat dihayati adanya kandungan nilai budaya yang dibawa penulisnya sebagai gagasan utama. Dalam sastra jawa misalnya antara lain terdapat nilai budaya meliputi:

a. nilai kejuangan dan semangat pengorbanan,

yaitu nilai perjuangan sebagai tolak ukur dan diharapkan dimiliki masyarakat, seperti kesetiaan, kesungguhan, kedisiplinan,dll

b. nilai kerumahtanggaan

yaitu nilai yang diharapkan berkembang dalam etiap keluarga.

c. Nilai kemandirian kaum wanita

Yaitu, Nilai yang diharapkan dapat dimiliki setiap wanita
Sumber : http://theviq.blogspot.com/2009/04/ibd-manusia-dan-harapan.html

2.Makna harapan 
Bukan dengan keserakahan, kita hidup. Dan bukan karena sebuah khayalan, kita bertahan. Kita hidup karena harapan. Harapan yang membuat kita terus bernapas, tetap bergerak, dan tinggi bermimpi. Tanpa harapan, manusia akan hampa dan tidak akan memiliki jiwa yang menembus batas keterbatasan.
Harapan seperti api lilin kehidupan ditengah gelapnya malam. Ia menjadi imaji, pemantik terang, dan penenang sukma. Dengan harapan, semua manusia menambah keberaniannya. Dan dengan harapan pula, manusia percaya pada cita-cita. Harapan mengubah ketidakpastian menjadi peluang. Harapan juga yang menggeser paradigma sebuah ketidakmungkinan.
Bicara akan harapan, kita berbicara tentang “kita”, bukan “aku”, “kamu” atau “dia”. Harapan terpupuk karena orang disekitar kita. Harapan pupus adalah bersumber dari diri sendiri, namun harapan subur adalah bersumber dari kita dan juga kumpulan semangat doa dari orang sekitar kita.
Tentang harapan, mari kita belajar pada bijak bestari di sekeliling kita. Lihatlah semangat mereka saat terjatuh, perhatikan senyuman mereka saat mendapatkan beban masalah, dan rasakan spirit yang mereka curahkan saat memetik hikmah sebuah kecutnya kehidupan.
Harapan selalu dekat dengan sabar dan juga syukur. Ketika harapan sampai pada kenyataan, maka dia dekat dengan syukur. Dan ketika harapan berakhir sebelum sampai tujuan, maka dia dekat dengan sabar. Sungguh indah bukan kawan, tentang cerita orang yang memiliki pengharapan?
Aku menaruh harapan pada yang terharap. Lalu akankah harapanku akan tercapai sesuai apa yang aku harapkan?
Sumber : http://ryanalfiannoor.wordpress.com/2011/12/16/tentang-makna-harapan/

3.Makna kepercayaan
Kepercayaan atau "trust", seringkali mengemuka menjadi sebuah ukuran dalam melakoni sebuah proses kehidupan, baik dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Dalam kehidupan dunia usaha atau urusan bisnis, kepercayaan memegang peran penting dan strategis. Tidak ada kepercayaan, maka tidak ada bisnis. Dalam perkembangan gerakan koperasi, modal utama nya adalah kepercayaan. Sebuah koperasi tidaklah akan tumbuh dan berkembang, jika para anggota nya sendiri tidak mempercayai pengurus nya. Bahkan dalam melangsungkan mahligai rumah tangga sekali pun, kepercayaan menjadi indikator keberlangsungan sebuah keluarga. Keutuhan sebuah perkawinan umum nya akan ditentukan oleh sampai sejauh mana antara suami dan istri mampu menjaga dan memelihara "rasa percaya" yang diberikan.

    Dalam hubungan yang bersifat "kemanusiaan", Kepercayaan yang diberikan kepada seseorang, tentu saja tidak akan muncul secara mendadak. Tidak juga tiba-tiba. Dalam memilih seorang "wakil rakyat" misal nya, kita tentu akan menetapkan pilihan kepada seseorang yang sudah kita kenal dengan baik. Kita pasti tidak akan memilih anggota legislatif yang sama sekali tidak dikenali. Pilihan kita adalah kepercayaan kita. Biasa nya orang yang kita pilih, setidak nya sudah mampu membangun sebuah "suasana kebatinan". Kepercayaan mestilah ditempuh lewat sebuah proses. Kepercayaan tidak mungkin akan digadaikan. Apalagi dijadikan komoditi untuk diperjual-belikan. Kepercayaan akan lahir dengan sendiri nya dari relung-relung hati yang paling dalam. Bahkan dalam hubungan "Ilahiyah", kepercayaan atau keyakinan merupakan langkah pertama dan utama untuk mengukur keimanan seseorang kepada sang Pencipta.

   Sebuah Pemerintahan juga harus mendapat kepercayaan dari rakyat nya. Dalam sistem demokrasi, kepercayaan itu diraih melalui pemilihan umum yang secara langsung dipilih oleh rakyat atau melalui sebuah sistem perwakilan. Sedangkan dalam sistem monarki, kepercayaan itu dititipkan kepada raja atau ratu sesuai dengan sejarah dan perkembangan negara atau kerajaan yang bersangkutan. Bahkan negara yang menganut sistem komunis sekalipun kepercayaan rakyat terhadap partai menjadi indikator penting dalam kelangsungan Pemerintahan nya. Pendek kata, kepercayaan adalah nilai yang sangat utama dalam menjaga amanah yang telah diberikan seseorang, khusus nya yang berkaitan dengan soal Pemerintahan dan kemasyarakatan.

   Saat ini, kita tengah melakoni sistem demokrasi yang memberi "kewenangan" dan "kebebasan" penuh kepada rakyat untuk menetapkan pemimpin nya. Apakah itu yang disebut dengan Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota maupun mereka yang disebut dengan "wakil rakyat" (DPR/D dan DPD). Walau para pemimpin yang bakal dipilih itu harus difilter lewat partai politik, apalagi dengan adanya calon pemimpin dari kalangan independen, sesungguh nya bangsa kita, kini sedang berupaya untuk memberi penghormatan dan pengakuan kepada rakyat nya sendiri, setelah kurang lebih 32 tahun lama nya terjebak dalam sistem demokrasi yang diatur. Sebuah format Pemerintahan yang sarat dengan korupsi, kolusi dan nepotisme.

   Pemerintah Orde Baru, terutama menjelang "kehancuran" nya, memang terlihat banyak kebijakan-kebijakan yang tidak senafas dengan aspirasi rakyat, khusus nya dalam menjawab krisis multi-dimensi yang dihadapi. Pemerintah Orde Baru, seperti yang tidak berdaya. Elit-elit nya terkesan tidak kompak lagi. Di saat-saat yang menentukan, banyak dari mereka yang sekedar hanya cari selamat. Mereka lupa akan jeritan rakyat yang terhimpit kesulitan ekonomi. Lewat kekuatan yang dirancang dan dibangun nya, baik infra atau supra struktur politik, Pemerintahan Soeharto, seolah-olah  lupa akan makna kepercayaan yang telah diberikan rakyat. Akibat nya wajar, bila akhir nya rakyat melakukan penggugatan lewat gerakan reformasi, yang ujung-ujung nya melengserkan Pak Harto dari singgasana kekuasaan nya.

   Sudah lebih dari 10 tahun reformasi menggelinding. Perubahan dan perbaikan nilai-nilai kehidupan, rupa nya belum terukur secara signifikan. Selama kurun waktu tersebut, mesti nya kita telah mampu meletakan dasar-dasar kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang lebih baik dan cerdas. Sangat disayangkan, kepercayaan rakyat yang diberikan ke para pemimpin gerakan reformasi, belumlah seindah yang diimpikan. Sebagian warga bangsa tetap saja bergulat dengan kubangan kemiskinan.  Banyak juga yang terjebak dalam pengangguran. Bahkan di berbagai daerah, kerapkali dilaporkan masih ada nya warga bangsa yang mengalami rawan gizi dan rawan pangan. Inilah sebuah makna dari kepercayaan rakyat yang sangat patut untuk dijadikan percik permenungan bagi para elit bangsa yang kini sedang mengelola negeri dan bangsa tercinta.
Sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150343598610487

 
Manusia dan Pandangan Hidup

1.Pengertian pandangan hidup dan ideologi
Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati, Karena itu ia menentukan masa depan seseorang. Untuk itu perlu dijelaskan pula apa arti pandangan hidup. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan,, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.
Dengan demikian pandangan hidup itu bukanlah timbul sekita atau dalam waktu yang singkat saja, melainkan melalui proses waktu lama dan terus-
Ilmu Budaya Dasar Halaman 1 dari 14
menerus, sehingga hasil pemikiran itu dapat diuji kenyataannya. Hasil pemikiran itu dapat diterima oleh akal, sehingga diakui kebenarannya. Atas dasar ini manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman, arahan, atau petunjuk yang disebut pandangan hidup.
Pandangan hidup banyak sekali macamnya dan ragamnya, akan tetapi pandangan hidup dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya yaitu terdiri dari 3 macam :
1. Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan yang mutlak kebenarannya
2. Pandangan hidup yang berupa idiologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada negara tersebut
3. Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya
Pandangan hidup pada dasarnya mempunyai unsur-unsur yaitu ;
∗ Cita-cita
∗ Kebajikan
∗ Usaha
∗ Keyakinan / kepercayaan
Keempat unsur ini merupakan satu rangkaian kesatuan yang tidak terpisahkan . cita-cita aialah apa yang diinginkan yang mungkin dapat dicapai dengan usaha atau perjuangan. Tujuan yang hendak dicapai ialah kebajikan, yaitu segala hal yang baik yang membuat manusia makmur, bahagia, damai, tenteram. Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi keyakinan/kepercayaan. Keyakinan/kepercayaan diukur dengan kemampuan akal, kemampuan jasmani, dan kepercayaan kepada Tuhan.
Cara manusia memandang dan mensikapi apa yang terdapat dalam alam semesta bersumber dari beberapa faktor yang dominan dalam kehidupannya. Faktor itu boleh jadi berasal dari kebudayaan, filsafat, agama, kepercayaan, tata nilai masyarakat atau lainnya. Luasnya spektrum pandangan manusia tergantung kepada faktor dominan yang mempengaruhinya. Cara pandang yang bersumber pada kebudayaan memiliki spektrum yang terbatas pada bidang-bidang tertentu dalam kebudayaan itu.
Dalam tradisi Islam klasik terma khusus untuk pengertian worldview belum diketahui, meski tidak berarti Islam tidak memiliki worldview. Para ulama abad 20 menggunakan terma khusus untuk pengertian worldview ini, meskipun berbeda antara satu dengan yang lain. Maulana al-Mawdudi mengistilahkannya dengan Islami nazariat (Islamic Vision), Sayyid Qutb menggunakan istilah al-TaÎawwur al-IslamÊ (Islamic Vision), Mohammad AÏif al-Zayn menyebutnya al-Mabda’ al-IslÉmÊ (Islamic Principle), Prof. Syed Naquib al-Attas menamakannya Ru’yatul Islam lil wujËd (Islamic Worldview).
Meskipun istilah yang dipakai berbeda-beda pada umumnya para ulama tersebut sepakat bahwa Islam mempunyai cara pandangnya sendiri terhadap segala sesuatu. Penggunaan kata sifat Islam menunjukkan bahwa istilah ini sejatinya adalah netral. Artinya agama dan peradaban lain juga mempunyai Worldview, Vision atau Mabda’, sehingga al-Mabda’ juga dapat dipakai untuk cara pandang komunis al-Mabda’ al-Shuyu’i, Western worldview, Christian worldview, Hindu worldview dll. Maka dari itu ketika kata sifat Islam diletakkan didepan kata worldview, Vision atau Mabda’ maka makna etimologis dan terminologis menjadi berubah. Penjelasan dari istilah menunjukkan akan hal itu:
Menurut al-Mauwdudi, yang dimaksud Islami Nazariyat (worldview) pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (shahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia. Sebab shahadah adalah pernyataan moral yang mendorong manusia untuk melaksanakannya dalam kehidupannya secara menyeluruh.[4]
Shaykh Atif al-Zayn mengartikan mabda’ sebagai aqidah fikriyyah (kepercayaan yang rasional) yang berdasarkan pada akal. Sebab setiap Muslim wajib beriman kepada hakekat wujud Allah, kenabian Muhammad saw, dan kepada al-Qur’an dengan akal. Iman kepada hal-hal yang ghaib……..itu berdasarkan cara penginderaan yang diteguhkan oleh akal sehingga tidak dapat dipungkiri lagi. Iman kepada Islam sebagai Din yang diturunkan melalu Nabi Muhammad saw untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, dengan dirinya dan lainnya.[5]
Sayyid Qutb mengartikan al-tasawwur al-Islami, sebagai akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat dibalik itu.[6]
Bagi Naquib al-Attas worldview Islam adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yaat al-Islam lil-wujud).[7]
Pandangan-pandangan diatas telah cukup baik menggambarkan karakter Islam sebagai suatu pandangan hidup yang membedakannya dengan pandangan hidup lain. Namun, jika kita kaji keseluruhan pemikiran dibalik definisi para ulama tersebut kita dapat beberapa orientasi yang berbeda. Al-Maududi lebih mengarahkan kepada kekuasaan Tuhan yang mewarnai segala aktifitas kehidupan manusia, yang berimplikasi politik. Shaykh Atif al-Zayn dan Sayyid Qutb lebih cenderung mamahaminya sebagai seperangkat doktrin kepercayaan yang rasional yang implikasnya adalah ideologi. Naquib al-Attas lebih cenderung kepada makna metafisis dan epistemologis. (dikutip dari http://pondokshabran.org/index.php?option=com_content&task=view&id=37&Itemid=17)
Ideologi adalah gabungan antara pandangan hidup yang meruupakan yang merupakan ninilai –nilai yang telah mengkristal dari suatu bangsa serta Dasar Negara yang memiliki nilai-nilai falsafah yang menjadi pedoman hidup suatu bangsa, selain itu, Idiologi adalah merupakan hasil reflesi manusia berkat kemampuannya mengadakan distansi terhadap dunia kehidupannya. Maka terdapat suatu yang bersifat dialektis antara idiologi dengan masyarat negara. Di suatu pihak membuat idiologi semakin realistis dan pihak yang lain mendorong masyarakat mendekati bentuk yang ideal. Ideologi mencerminkan cara berpikir masyarakat, bangsa maupun negara, namun juga membentuk masyarakat menuju cita-citanya.
Sumber :http://one.indoskripsi.com/node/1439)

2.Makna cita-cita
  Apa itu makna cita-cita?
cita-cita merupakan keinginan, harapan, dan tujuan manusia atau bisa juga diartikan bahwa Cita-cita adalah suatu impian dan harapan seseorang akan masa depannya,cita-cita itu adalah tujuan hidup.Cita-cita yang baik adalah cita-cita yang dapat dicapai melalui kerja keras, kreativitas, inovasi, dukungan orang lain dan sebagainya.Keberanian kita mengambil resiko hari ini bisa jadi menjadi kesuksesan tak terduga di masa depan kita.

Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Dari sekian banyak manusia, ternyata masing-masing memiliki keunikan dan perbedaan antara satu dengan yang lainya. Dari keunikan keunikan dan perbedaan perbedaan tersebut manusia mempunyai cita cita yang berbeda beda juga. Setiap manusia yang hidup pasti mempunyai cita-cita yang didambakannya yang menjadi impian dan tujuan masing masing. Dalam mencapai cita-citanya dan tujuanya, manusia tidak akan mampu hidup secara individu/sendiri. Dalam segala aspek, manusia sebagai makhluk sosial pasti membutuhkan bantuan dan hubungan dengan manusia yang lain. Manusia hidup secara tolong menolong, saling membutuhkan.Cita-cita tersebut merupakan keinginan dan tujuan yang ingin dicapai oeh manusia sebagai sebuah harapan. Dalam mewujudkan cita-citanya manusia tersebut, pasti terhalang oleh suatu masalah-masalah yang dapat menggagu dan menghambat terwujudnya dan tercapainya cita-cita tersebut. dari masalah masalah itu manusia akan mendapatkan banyak hikmah dan pengalaman yang bisa digunakan dalam kehidupan yang akan datang. Apabila manusia tersebut tidak belajar pada masalah yang datang, maka proses pencapaian cita-cita akan berlangsung lama bahkan tidak tercapai sama sekali. Setiap manusia dituntut berusaha sendiri untuk mencapai cita-cita yang diinginkannya.dari masalah masalah itu juga akan diuji kesabaran manusia atas apa yang di inginkanya. selain berusaha secara fisik,manusia juga harus berdoa kepada tuhan yang telah menciptakan kita . dalam berdoa kita hendaklah berdoa yang baik,dengan agama dan kepercayaan apa yang kita anut. Semua ini dilakukan agar tercapai antara keselarasan hidup di dunia maupun di akhirat. Cita cita tidak akan tercapai kalau kita tidak mau berusaha untuk mencapainya dengan usaha keras. Untuk menggapai cita-cita, harus diiringi tekad kuat dan tidak mudah untuk menyerah serta tidak mudah putus asa. Maka manusia dituntut menjadi pribadi yang selalu berusaha demi tercapainya cita-cita hidup. Manusia haruslah berusaha mencari peluang-peluang untuk mencapai cita-citanya dan tujuanya demi apa yang dia inginkan dimasa yang akan datang.Tapi jangan lupa dengan cita-cita setelah kita mati nanti yaitu masuk surga. Masuk surga pun harus kita perjuangkan selama kita hidup di dunia karena hidup kita pada dasarnya adalah untuk ibadah dan merupakan ujian Tuhan kepada kita. Kita mati tidak membawa apa-apa selain amal ibadah kita.
jadi menurut kesimpulan saya antara manusia,cita-cita dan tuhan sangatlah terkait dan tidak bisa di pisahkan. manusia sebagai sebagai mahluk sosial saling membutuhkan dengan yang lainya ,dalam proses perjalanannya manusia pasti memiliki cita cita dan tujuan . untuk melakukan perwujudan cita cita tersebut manusia berdoa dan meminta kepada tuhan tapi harus di sertai dengan usaha dan kerja keras dalam mencapi tujuannya,selama dalam usaha mencapai cita cita pasti dihadapkan pada haangan dan hambatan,halangan dan hambatan tersebut menjadi ujian bagi manusia yang akan menjadikan manusia menjadi lebih kuat dalam menghadapai kehidupan di dinia ini.
Sumber : http://thasssya.blogspot.com/2011/01/makna-cita-cita.html

3.Makna kebajikan
Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama dan etika. Makna kebajikan Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik, mahluk bermoral. Atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik Manusia adalah seorang pribadi yang utuh yang terdiri atas jiwa dan badan. Manusia merupakan mahluk sosial: manusia hidup bermasyarakat, manusia saling membutuhkan, saling menolong, saling menghargai sesama anggota masyarakat. Sebaliknya pula saling mencurigai, saling membenci, saling merugikan, dan sebagainya. Sebagai mahluk pribadi, manusia dapat menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang buruk. Baik buruk itu ditentukan oleh suara hati. Suara hati adalah semacam bisikan di dalam hati yang mendesak seseorang, untuk menimbang dan menentukan baik buruknya suatu perbuatan, tindakan atau tingkah laku. Faktor-faktor yang menentukan tingkah laku setiap orang ada tiga hal: Pertama faktor pembawaan (heriditas) yang telah ditentukan pada waktu seseorang masih dalam kandungan. Faktor kedua yang menentukan tingkah laku seseorang adalah lingkungan (environ¬ment). Faktor ketiga yang menentukan tingkah laku seseorang adalah pengalaman yang khas yang pemah diperoleh. SUMBER : dwiariyanilylaku.blogspot.com/…/manusia-dan-pandangan-hidup.html H. Jelaskan makna kebajikan Makna kebajikan Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik, mahluk bermoral. Atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik Manusia adalah seorang pribadi yang utuh yang terdiri atas jiwa dan badan. Manusia merupakan mahluk sosial: manusia hidup bermasyarakat, manusia saling membutuhkan, saling menolong, saling menghargai sesama anggota masyarakat. Sebaliknya pula saling mencurigai, saling membenci, saling merugikan, dan sebagainya.
Sumber : dwiariyanilylaku.blogspot.com

4.Makna sikap hidup
   Sikap Hidup
       Sikap hidup ialah keadaan hati dalam menghadapi hidup ini. Apakah kita mempunyai sikap yang positif atau yang negatif. Apakah kita mempunyai sikap optimis atau pesimis? Atau apakah kita mempunyai sikap yang apatis?

       Sikap itu ada didalam hati kita dan hanya kitalah yang tahu.orang lain hanya baru tahu setelah kita bertindak. Sikap itu penting, setiap manusia mempunyai sikap dan sudah tentu tiap-tiap orang berbeda sikapnya. Sikap dapat dibentuk sesuai kemauan yang membentuknya.

       Sikap dapat juga berubah karena situasi, kondisi, dan lingkungan. Dalam menghadapi kehidupan, manusia selalu menghadapi manusia lain atau menghadapi sekelompok manusia. Ada beberapa sikap etis dan non etis. Sikap etis disebut juga sikap positif, dan sikap non etis disebut juga sikap negatif.
Sumber : http://bendhova25.blogspot.com/2013/01/makna-sikap-hidup-manusia-dan-pandangan.html

5.Hubungan manusia dan pandangan hidup
Pandangan Hidup merupakan suatu dasar atau landasan untuk membimbing kehidupan jasmani dan rohani. Pandangan hidup ini sangat bermanfaat bagi kehidupan individu, masyarakat, atau negara. Semua manusia pasti mempunyai suatu pandangan hidup sendiri – sendiri dan kemungkinan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Tak sedikit pula orang yang mempunyai pandangan hidup yang sangat bertentangan dengan pandangan hidup orang yang lainnya, itulah yang sering memicu perdebatan diantara umat manusia dalam kehidupan sehari hari.
Segala sesuatunya berhulu pada pandangan-hidup, yaitu bagaimana seorang individu memandang kehidupan yang ia jalani. Dalam menjalani kehidupan, seorang manusia pasti memiliki prinsip hidup dan prioritas hidup. Manusia akan menganut prinsip hidup yang bersesuaian dengannya, dan manusia itupun akan menganut pola-pikir yang bersesuaian dengan prinsip-hidup itu.
Dalam menentukan sebuah pandangan hidup tidaklah sembarangan, kita harus memiliki alasan atau alibi yang mebuat kita berpedoman dalam pandangan hidup tersebut.  Oleh karenanya berhati-hatilah di dalam mengadopsi sebentuk pandangan hidup tertentu, karena  secara signifikan sangat menentukan jalan hidup secara keseluruhan. Dalam memilih sebuah pandangan hidup yang paling penting adalah tujuan dan kecocokan kita terhadap pandangan tersebut.
Kondisi fisiko-mental kita selalu berubah-ubah. Sesuatu yang tadinya terasa amat cocok, bisa berubah drastis kini; sesuatu yang kini terasa amat cocok, bisa samasekali tidak cocok besok. Sementara itu pandangan hidup tidaklah bisa serta merta dirubah-rubah untuk selalu disesuaikan dengannya. Singkatnya, kita hendak memilih seuatu yang tidak sekedar cocok, namun yang jelas-jelas baik untuk kita dan memiliki tujuan yang sama dalam menjalani kehidupan.
Yang menganut pandangan hidup tertentu, akan menganut prinsip hidup tertentu. Prinsip hidup inilah yang selalu akan menjadi orientasi dan prioritas utama seseorang di dalam menjalani hidupnya. Misalnya, seseorang yang menganut pandangan bahwasanya hidup ini sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan martabat, maka ia akan berprinsip memanfaatkan sebaik-baiknya setiap peluang dan kesempatan guna mengisi kesempatan emas ini, dimana setiap pemikiran, ucapan dan tindakannya akan selalu ia orientasikan pada yang baik dan bermanfaat untuk meningkatkan martabat.
Prioritas utama seseorang di dalam menjalani kehidupannya dengan jelas mengekspresikan tujuan hidupnya, tujuan yang ia tetapkan berdasarkan pandangan hidupnya. Jadi semakin jelas bagi kita kini keterkaitan  antara pandangan hidup, prinsip hidup, jalan hidup dan tujuan hidup. Disadari atau tidak, setiap orang akan selalu berjalan mengarah kepada tujuannya masing-masing. Terlepas dari ras, kebangsaan, etnis, agama, jender, usia, tingkat pendidikan, bidang profesi.
Sebagai contoh yang sangat terlihat, ada di negara kita sekarang ini, semakin maraknya kasus terorisme. Masalah ini terjadi akibat kurang tepatnya pandangan suatu orang terhadap masalah kehidupan sehari – hari.  Mereka manafsirkan atau mengartikan suatu ajaran secara sepotong – sepotong dan hanya berdasarkan pada satu atau dua sumber saja tidak melihat keadaan sekitar yang diperkirakan secara logika sehingga mendapatkan penjelasan yang kurang tepat.
Mereka berpandangan bahwa semua orang yang menentang atau memusuhi keyakinannya adalah musuh buat mereka dan itu harus dimusnahkan dari muka bumi ini untuk tersciptanya kehidupan yang aman dan sejahtera. Padahal kalau kita perhatikan sebenarnya pandangan mereka terhadap masalah tersebut adalah kurang tepat, bukan sewajarnya orang yang keliru itu disadarkan untuk kembali ke jalan yang lurus bukan malah ditiadakan atau dimusnahkan.
Tetapi pandangan seperti itu seperti sudah mendarah daging pada diri mereka dan orang – orang pengikutnya. Bahkan mereka menganggap kalau melakukan hal tersebut akan mendapat suatu pahala yang besar dan kalaupun mereka meninggal dalam menjalankan aksi mereka tersebut dianggap sebagai mati syahid. Padahal kalau diamati justru perbuatan yang mereka lakukan itu sangat merugikan orang lain, seperti menghilangkan nyawa orang lain, pasti keluarga yang ditinggalkan itu akan menyimpan duka yang sangat mendalam dan bahkan sulit untuk dihilangkan. Banyak anak kecil yang kehilangan orang tuanya, para orang tua kehilangan lapangan pekerjaan, dan lain sebagainya.
Mereka juga tidak segan segan untuk menyebarkan ajarannya tersebut kepada orang – orang yang ada disekitarnya sehingga pengikut semakin banyak. Dan hal tersebut tidak akan berhenti sebelum apa yang mereka inginkan tercapai.
Untuk masalah tersebut hal yang harus dibenahi sebeneranya adalah pandangan hidup pada pribadi masing masing orang tersebut. Kalau yang dibasmi adalah pemimpinnya itu belum bisa menuntaskan permasalahan karena pengikutnya masih banyak dan hal itu sulit untuk ditelusuri satu persatu. Kalau pandangan hidup mereka sudah kembali ke jalan yang benar, tidak perlu lagi diperintah pun mereka akan menghentikan aksi yang mereka jalankan sekarang ini dengan kesadaran pribadi. Karena itu, dalam memilih sebentuk pandangan hidup yang nantinya akan sangat menentukan jalan hidup kita, kita perlu melengkapi diri dengan kemampuan memilah yang baik dan buruk, antara yang benar dan salah, antara yang asli dan palsu, antara yang sejati dan semu. Umumnya, kemampuan ini kita peroleh dari pengalaman dan pengetahuan kita.
Sumber : http://irenegunadhi.blogspot.com/2011/11/hubungan-manusia-dan-pandangan-hidup.html